Mengeja Soekarno Membaca Indonesia; Sebuah Sudut Pandang Kebangsaan

soekarno-ganyang-malaysia
Ir. Soekarno, Presiden RI yang pertama

Mengeja Soekarno Membaca Indonesia; Sebuah Sudut Pandang Kebangsaan

oleh

Rizal Bagus Rahman

Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD

surel: rizalbagus19@gmail.com

 

“Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatra, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu ‘nationale staat’ “

(Soekarno, Pidato dalam Sidang BPUPKI, 1 Juni 1945)

            Manakala membincang sosok Soekarno sangat sulit jika harus melepaskan memori tentang sepak-terjangnya dalam membidani terbentuknya negara-bangsa (nation-state) bernama Republik Indonesia. Dengan tidak bermaksud menafikan eksistensi para pendiri bangsa lainnya, kehadiran Soekarno jelas telah memberi warna yang dominan dalam perjalanan bangsa. Ia memiliki ‘anugerah’ tersendiri; seni memimpin, retorika, sekaligus karisma yang penuh wibawa pada waktu yang bersamaan. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Soekarno kemudian tampil dalam panggung kesadaran berbangsa yang dibalut simbol-simbol mesianisme[1] tradisional masyarakat Indonesia—khususnya di Jawa—sebagai Ratu Adil.

            Menjadi menarik untuk menggali lebih dalam bagaimana sebenarnya Soekarno bisa mendapatkan posisi yang sedemikian ‘agung’, meskipun tidak sedikit kritik yang tajam datang dari tokoh bangsa sezaman maupun para pemikir selanjutnya. Hal ini bisa dijawab jika melihat kehidupan Soekarno dalam dua babak besar, yaitu Soekarno muda dan Soekarno tua. Dua pembabakan ini, menurut hemat saya, memiliki relevansi sosio-politik yang tidak serta-merta berangkat dari kesimpulan, melainkan dari serangkaian fakta historis yang menunjukkan pribadi Soekarno sebagai seorang pemimpin, pemikir, dan politikus. Tiga karakteristik inilah yang menjadi tiga pendekatan yang berbeda untuk memahami sosok yang pernah menyandang gelar Presiden Seumur Hidup ini.

Lanjutkan membaca “Mengeja Soekarno Membaca Indonesia; Sebuah Sudut Pandang Kebangsaan”

Iklan