Aku Bukan Yusuf

 

 

yusuf
Ilustrasi ketika Nabi Yusuf a.s dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya (Sumber Gambar: disini

 

 

Sedari kecil, aku senang sekali pada orang-orang yang bertutur kisah atau tulisan-tulisan yang bercerita. Apalagi ketika riwayat para pejuang didendangkan macam irama ‘Ney’ yang meluluhkan hati, aku seperti dibangunkan dari tidur panjang.

Yusuf putra Ya’qub—kedamaian bagi mereka—namanya. Kata orang, dialah Nabi yang dikaruniai kemampuan untuk memahami arti dari bunga tidur. Barangkali kau sudah tahu hal itu. Manakala matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud padanya, justru itulah gerbang pembuka baginya untuk melalui asam-garam kehidupan.

Benar pula bahwa setiap Nabi adalah pejuang. Ia tidak ditumbuhkan dalam kenyamanan. Seperti Yusuf yang diperdaya oleh saudara-saudaranya, sampai-sampai ia tersingkir dan tersungkur ke dalam sumur. Ia pasrah menyalakan gelap dengan terang iman, sembari berdoa agar ia dikuatkan Tuhan.

Hingga pada waktunya tiba, serombongan kafilah dagang menjualnya ke Istana. Yusuf pun selamat. Anak tangga ujian selanjutnya jauh lebih sukar ditawar. Benar saja, kini, justru wajah rupawannya sendiri yang jadi sebab segala prahara. Zulaikha, istri Raja, merayunya bermain api asmara. Yusuf juga manusia, lagi muda. Tapi indahnya, sekali lagi iman yang bersemayam dalam dirinya jauh lebih kokoh dibanding bangunan Istana yang megah itu. Yusuf berlari menghindar sehingga bajunya terkoyak. Dan, penjara telah setia menantinya.

Aku bukan Yusuf, tapi aku belajar padanya. Ia berani menghadapi orang-orang yang dengki dan ia tahu satu-satunya cara membuat mereka menginsafi diri adalah dengan memberikan teladan kesabaran. Mengalah untuk membuktikan.

Aku bukan Yusuf, tapi aku belajar padanya. Ia yang mengajarkanku bahwa tampang rupawan bukanlah komoditas jual-beli seperti jamaknya manusia hari ini. Tampilan fisik bukan pujaan, melainkan seharusnya kecerdasan sikap dan ketangguhan iman jadi capaian.

Aku bukan Yusuf, tapi aku belajar padanya. Ia yang gagah menegakkan keadilan sekalipun ia sedang bermesra dengan jeruji besi. Fitnah telah dibersihkan. Orang-orang yang dizalimi, lalu ia bela agar segera merdeka. Raja dan para pembesar akhirnya sadar, ada yang salah dengan mereka.

Aku bukan Yusuf, tapi aku belajar padanya, untuk mampu mengeja mimpiku sendiri di kala terjaga. Mewujudkannya dengan selalu melibatkan Allah dalam setiap perjalanan.

Aku percaya, kisah-kisah Nabi seharusnya jadi spirit perjuangan bukan pelengkap pajangan.

R.B

Bandung, 8 Januari 2017

Iklan

2 pemikiran pada “Aku Bukan Yusuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s