Bandung Membendung Segala

gambar

Aa Gym dan Ridwan Kamil

(Sumber: Tribun News)

Baru saja saya menengok rekaman kajian kamisan yang biasanya rutin diadakan di Masjid Daarut Tauhid (yang lebih populer dikenal sebagai DT). Siapa yang tak kenal DT plus ketokohan Aa Gym yang mendunia itu? Bahkan seorang jurnalis AS pernah menyebut Aa dengan sebutan “Stephen Covey” nya Indonesia.

Sejak awal kemunculannya, Aa berjaya memikat sesiapa saja yang mendengarnya bernasihat. Bahasannya tak rumit, pesan akhlak dibungkus dengan rumus-rumus, dan lengkap pula sampai mudah diingat sebab aksen Sunda yang begitu kuat dan khas. Aa dengan gaya dakwah dan varian gerakannya muncul sebagai warna lain geliat Islami di Indonesia pada dekade 90-an. Al-Hikam, kitab klasik tentang tasawuf karangan Al-Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari yang melegenda di pesantren-pesantren salaf itu, hadir ke ruang publik dengan suasana yang jauh lebih akrab di telinga umat. Tak sedikit pula para kyai atau santri yang menganggap kajian Al-Hikam a-la Aa Gym terlihat jauh dari metode mapan di pesantren. Tapi, sepertinya umat tak melihat itu.

Umat Muslim, terutama sekali yang hidup di tengah hiruk-pikuk ritme perkotaan yang serbacepat dan melelahkan lebih cenderung menyukai hal-hal yang serbapraktis. Aa menangkap kebutuhan umat dengan dakwah manajemen qolbu yang sederhana; dan kompatibel dengan Muslim kota yang kering nasihat dan kehabisan waktu buat memeras proses belajar agama. Saya belum tahu dan tak bisa memastikan bagaimana akseptabilitas dakwah Aa di kawasan rural dan konsentrasi Muslim perdesaan. Itu soal lain selanjutnya.

Dalam tayangan kali ini, Aa sedang menerima tamu yang “memuridkan diri” padanya, yang tak lain ialah Ridwan Kamil; Pak Wali yang tumbuh besar di tengah-tengah ekspresi anak muda muslim kota Bandung 80 s.d 90-an. Kota Bandung saat itu gandrung dengan kajian-kajian Islam yang tematis, segar, dan tak jarang berani menjadi oposisi dalam pemikiran terhadap pemerintah Orba waktu itu. Sejalan beriringan, barang kali begitu pula kondisi keumatan di kota-kota besar. Umat Muslim sedang menemukan ruang kemerdekaannya di negeri sendiri.

Dan Bandung menjadi laboratorium yang cukup sehat. Bandung menjadi ladang untuk menyemai benih-benih pemikiran-pemikiran Islam yang majemuk. Bandung yang saya tahu tak hanya identik dengan DT. Ia adalah rumah bagi lahirnya gerakan pemuda Muslim di lorong-lorong Salman. Ia adalah pohon yang rindang bagi kajian lintas gerakan para Kyai di pinggiran kota, para mubaligh di masjid-masjid besar, para pecinta ahlul bait, para pengkaji sunnah, para pengasas khilafah, dan bahkan para penerus cita-cita Kartosoewirjo. Bandung membendung segala aliran sungai pergerakan dengan sedikit saja menimbulkan gesekan di permukaan. Bandung membuktikan, bahwa tipikal orang di tanah Sunda begitu ramah dan terbuka bagi hadirnya sesuatu yang baru.

Lewat tulisan ini, saya mencoba membedah sekaligus bercermin. Aa Gym dan Ridwan Kamil adalah wajah umat Muslim kota. Mereka populer dan diikuti berjuta jamaah. Dua insan yang mewakili praktik ber-Islam generasi terpelajar dan tokoh populis yang hari-hari ini sedang menjadi selera khalayak. Saya jadi ingat perkataan Ulil Abshar, bahwa “populisme tokoh tetap saja cermin dari elitisme itu sendiri. Menjadi elite tak selamanya bermakna negatif, sebab saya dan kalian, para mahasiswa, adalah elite-elite juga”

Pertanyannya kemudian:
1. setelah populisme memengaruhi kita untuk melakukan perbaikan kualitas diri, selanjutnya bagaimana ia memperbaiki kualitas kolektif?; dan

2. kapankah juga populisme dijenuhi orang-orang?

R.B
23 November 2016,
warga Bandung dekade 2000-an.

“Bergeraklah terus, umat.”

N.B:

Rekaman Kajian DT Aa Gym & RK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s