Fatih dan Keseharian Kita

Begini,

saya iri. Benar-benar iri sewaktu lihat gambar-gambar, potongan video, dan segunung tagar soal ketibaan Al-Ustadz Fatih Seferagic yang nggantengnya itu janganlah dibanding-bandingkan dengan saya, nanti kutjiwa. Iri saya semoga bukan suatu hal yang tercela, sebab saya sendiri masih kudu belajar lebih serius soal hapal-menghapal ayat Suci, lebih-lebih mengamalkannya.

Sekilas, saya tengok bro Fatih itu dikerumuni lautan akhwat yang nampak berseri-cerah wajahnya, sambil memotret blass pakai blitz yang menyorot ibarat lampu panggung di konser One-D. Belum lagi para pemuda harapan bangsa, ya seperti saya itu; yang kumisan dan jenggotan tipis, juga gak kalah berbinar-binar matanya menyaksikan Idola Baru Masa Kini hadir melawat ke tanah air. Kalaulah bukan sebagai kalimat tanya pengganti sirik, apa yang kurang dari seorang Fatih? Kasep, jangkung, putih, hapal Quran, dan bacaannya sedap didengar. Lengkap, bukan?

“Idamanku”
“Subhanallah Imamku.. *lope*”
“Uunnccch. Liat deh shay @jsksmsnsmyxx16”

Begitu kira-kira komentar para gadis di jagat maya. Kalau komentar para jejaka, saya belum sempat stalking 😀

Luar biasa! Masyarakat kita akhir-akhir ini senang sekali berkerumun. Beberapa ratus jam yang lalu, akar rumput umat berduyun-duyun turun ke Jakarta menghampiri “doi” yang sama-sama dibenci. Tapi hari ini, tak sedikit muslim-muslimah yang juga turun ke masjid-masjid atau ruang seminar untuk mendekati “dia” yang sama-sama dicintai. Manusia memang makhluk yang paradoks. Seperti kata Heidegger, “yang ada” hanya pantulan dari realitas “yang ada” lainnya. Itulah sebab eksistensi keseharian manusia selalu dibongkar pasang mencari bentuk utuh dan final.

Mencintai dan membenci. Barang kali dua kata kerja itu adalah cara manusia untuk mengisi “kesuntukan” hidup yang hari-harinya penuh warna (atau masalah??!).

Buat saya, kehadiran bro Fatih di tengah-tengah umat, dengan judul tournya “Heaven on Earth” yang menyegarkan itu sebagai penghibur disaat kita (warga kota) bingung untuk kabur dari kemacetan, banjir, deadline kerja, bimbingan skripsi, galau jodoh, jadwal hujan, dan segunung hal yang perlu disenyumi lainnya. Ketika hati yang kering dan hampir mati ini terhibur, bukankah ia akan lagi basah dan bangun? Apalagi bacaan merdu Al-Quran yang begitu menyayat hati dibanding suara Abah membaca tarhim subuh yang kadang-kadang kita abaikan itu. Mudah-mudahan, nanti, ba’da Fatih mulang ke Amarikah lagi, kita-kita di sini tetap tak berkurang ketakjuban pada kalam Tuhan. Kalau sampe byaaar malas-malasan lagi ke Qur’an (membaca-menginsafi-memahami-mengamalkan) mungkin rukun iman keempat itu harus diganti jadi Iman kepada Fatih saja, jangan ke kitab-kitab suci.

Benar apa dawuh kyai,
“Mencintai dan membenci itu ala kadarnya saja, selain kepada Gusti Allah. Dia Maha Kuasa membolak-balik hati”

Akhir kata,
saya cukupkan dulu hasil riset dan ke-kepo-an yang ala kadarnya ini.

*otw numbuhin jambang*

Antapani, 13 November 2016/ 13 Shafar 1438 H

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s